1. PENGERTIAN STILISTIKA CERITA PENDEK
Stilistika cerita pendek adalah penelaahan cara penggunaan bahasa oleh pengarang untuk menimbulkan efek dalam cerita pendek. Oleh karena itu fokus stilistika cerita pendek antara lain, bagaimana penggunaan bahasa dalam cerita pendek, apa ciri –ciri bahasa cerita pendek, apa komponen stil cerpen, bagaimana hubungan bahasa dengan cerita pendek.
2. KOMPONEN STIL CERITA PENDEK
Komponen stil cerpen meliputi:
a. unsur leksikal
b. unsur gramatikal
c. unsur retorika
d. unsur kohesi
e. unsur percakapan
berikut akan dijelaskan sedikit mengenai unsur leksikal dan unsur gramatikal.
A. Unsur Leksikal
Adalah penggunaan kata tertentu yang sengaja dipilih dalam cerita pendek oleh cerpenis. Bentuk kata berkaitan dengan jenis kata yang digunakan. Makna yang dipilih adalah kata yang bermakna konotasi yang dapat mengungkapkan gagasan, yang membangkitkan asosiasi.
Akibat penggunaan pilihan kata ini, dapat terjadi penyimpangan, namun dapat memperjelas makna.
B. Unsur Gramatikal
Sama maknanya dengan struktur kalimat. Berdasarkan struktur kalimat ini dapat diungkapkan pesan, atau makna yang sering disebut struktur batin.
Struktur kalimat dapat berwujud pembalikan, pemendekan, pengulangan, serta penghilangan unsur tertentu. Hal itu dilakukan untuk menekankan unsur estetis atau pesan yang terkandung. Unsur kalimat berupa kompleksitas kalimat, jenis kalimat, jenis klausa dan prosa.
3. CONTOH ANALISIS STILISTIKA CERITA PENDEK
Adapun cerpen yang akan kami analisis adalah cerpen Robohnya Surau Kami karya A. A. Navis. Cerpen ini akan ditelaah berdasarkan struktur kalimat yang dihubungkan dengan gaya bercerita dan pemilihan leksikal yang akan dikaitkan juga dengan pemakaian majas.
a.Struktur Kalimat
Dalam cerpen Robohnya Surau Kami, A. A. Navis banyak menggunakan kalimat –kalimat pendek. Bahkan ada kalanya ia menggunakan bentuk yang meyerupai kalimat, namun karena pemakaian kordinator tertentu strukturnya menjadi taksa. Misalnya;
“Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku denganmenumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar.”
Anak kalimat pada kalimat itu adalah beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis sedangkan induk kalimatnya adalh tuan berhenti dekat pasar. Hubungan antara kedua kalimat itu adalah hubungan persyaratan, karena dalam kalimat itu dipakai kata penghubung kalau.
Sedangkan struktur yang menyerupai kalimat misalnya;
“Dan di ujung itu nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua, yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat.”
Kedua kalimat itu diawali dengan kata dan yang biasanya digunakan untuk merangkai klausa dalam kalimat majemuk setara. Namun bila diperhatikan lebih cermat, rangkaian kata itu merupakan sebuah kalimat. Dengan menghilangkan kata dan, kita akn memperoleh susunan kalimat yang apik.
“Di ujung jalan itu nanti Tuan temui sebuah surau tua. Di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua, yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketatannya beribadat.”
Di dalam cerpen Robohnya Surau Kami ditemukan 31 kalimat yang diawali dengan kata dan, 25 kalimat yang diawali kata tapi, 4 kalimat berawal kata karena dan 1 kalimat dengan kata sebab. Di dalam cerpen ini juga digunakan kata hingga yang memiliki fungsi yang sama dengan kata sehingga. Kata tetapi pun disingkat menjadi tapi, begitu pula sedangkan menjadi sedang.
Kecendrungan memakai kalimat yang pendek itulah yang menyebabkan penyingkatan atau, bahkan, pelepasan kata-kata subdinator seperti itu.
Dari contoh itu dapat disimpulkan bahwa “penyimpangan pemakaian bahasa” dalam struktur kalimat itu dapat disebut sebagai gaya cakapan – memberikan kesan adanya dampak untuk lebih menonjolkan sesuatu.
b.Struktur Kalimat Gaya Cakapan dan Gaya Bercerita
Robohnya Surau Kami menggunakan pencerita akuan. Keuntungan gaya bercerita itu adalah tumbuhnya keakraban antara pencerita, cerita, dan pembaca. Akan tetapi, gaya itu mempunyai keterbatasan, tidak seperti gaya bercerita dengan pencerita diaan. Pencerita diaan dapat memberikan kisah yang lebih bebas sifatnya, dapat menyoroti tokoh-tokoh dan lakuan mereka dari pelbagai sudut (Sudjiman, 1988:64-65 dalam Stilistika).
Cerpen Navis ini bercerita dengan pencerita akuan. Tetapi meskipun pencerita erlihat di dalam cerita, “aku” bukanlah tokoh penting di dalam kisahan itu. Tokoh penting di dalam Robohnya Surau Kami adalah kakek penjaga surau. Mulanya kakek digambarkan sebagai orang tua yang penampilannya menggambarkan ketaatan beribadahnya. Akan tetapi pada akhirnya kakek mati membunuh diri. Inti kisahan yang menjadi penyebab bagi bunuh dirinya kakek adalah bualan Ajo Sidi.
Pengarang memilih ragam gaya cakapan itu untuk lebih mengedepankan sikap cakapan pada kisahnya. Di samping itu, agar lebih terkesan bahwa keseluruhan kisahan disampaikan “aku” kepada pembaca yang sejak kalimat pertama disapanya dengan tuan.
Pengarang sadar betul akan hal itu, bukan saja dengan pemilihan struktur kalimat yang mengesankan akan “gaya cakapan”, melainkan juga dengan pemakaian tanda baca, yaitu tanda petik ganda (“) dan petik tunggal (‘) di dalam menampilkan tuturan tokoh.
c. Pemilihan Leksikal
Cerpen ini bersifat satire, mengejek sifat orang yang tidak peduli pada masyarakat atau lingkungan. Hal itu dapat dilihat pada salah satu kalimat pencerita.
“Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga lagi.”
“Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak memperdulikan mereka sedikit pun.”
Sifat satire itu disajikan dengan suasana humor, suasana sambil lalu seperti itu tidak menggurui pembaca. Untuk keperluan itu dipilihlah bentuk leksikal tertentu sehingga sifat humor itu tampil. Pemakaian sapaan tuan, misalnya yang di dalam pergaulan sehari-hari jarang digunakan membangkitkan nada humor. Begitu pula, nama Haji Slah dan Ajo Sidi bersifat humor.
Pemakaian kata sukses untuk melukiskan kemahiran Ajo Sidi di dalam membual pun bernada humor atau, pada gambaran Haji Saleh, dan kawan-kawan yang ingin memproses dan meresolusikan Tuhan yang mereka anggap mungkin silap.
Nada humor juga ditimbulkan oleh pemakaian kita mempropagandakan di dalam kalimat Haji Saleh ketika ia mengajukan resolusinya.
Pemilihan leksikal untuk menimbulkan citraan lokal, terlihat pada pemakaian ajo, garin dan kata surau, kata indonesia yang frekuensi pemakaiannya lebih tinggi di daerah sumatera.
Entri Populer
-
after a long search, by searching across all sites in all languages, I finally found it!!! (lebay) tapi emang benar seh, pertama aku deng...
-
KOPI SUSU KARYA : INDRA T. SINOPSIS Drama ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang terdiri dari seorang suami dengan dua orang ...
-
PENDAHULUAN Nugroho Notosusanto adalah seorang pengarang sekaligus pejuang pada masa pendudukan Jepang. Rangkaian tugas kerjanya berkaita...
-
Kompetensi Dasar : Mengomentari pendapat seseorang dalam suatu diskusi atau seminar. Materi Pembelajaran : 1. komentar para pembicara...
-
1. PENGERTIAN STILISTIKA CERITA PENDEK Stilistika cerita pendek adalah penelaahan cara penggunaan bahasa oleh pengarang untuk menimbulkan e...
-
bukanny mau numpang promosi melalui nama besar youtube, tapi memang aku ngerasa tempat ini betul-betul memberi banyak bantuan dalam hidup. m...
-
setelah terbius ama lagu lawas dari film lawas yang berjudul Dil Se, maka muncul tanda tanya dalam otakku. kira-kira arti dari lagu itu apa ...
-
postingan kali ini (sebenarnya karena males nulis yang berat-berat tapi tetep pengen eksis) berisi hal yang amat sangat sederhana. bahkan bi...
-
KATA PENGANTAR Kamus Batak Toba, Batak Karo dan Indonesia adalah kamus yang disusun dengan harapan mampu membantu para peminat yang ingin ...
-
Sorry Sorry Sorry Sorry Naega naega naega meonjeo Nege nege nege ppajyeo Ppajyeo ppajyeo beoryeo baby Shawty Shawty Shawty Shawty Nuni ...
Tampilkan postingan dengan label stilistika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label stilistika. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 12 Maret 2011
Kamis, 03 Maret 2011
KAJIAN UNSUR LEKSIKAL CERPEN "SENYUM" KARYA NUGROHO NOTOSUSANTO
PENDAHULUAN
Nugroho Notosusanto adalah seorang pengarang sekaligus pejuang pada masa pendudukan Jepang. Rangkaian tugas kerjanya berkaitan erat dengan bidang pendidikan. Partisipasinya dalam pertemuan ilmiah tingkat nasional maupun internasional juga sangat besar. Karya tulisnya berupa buku, brosur, sampai artikel ilmiah tak kurang dari 40 judul, sedangkan yang ilmiah populer sekitar 22 judul.
Dalam tulisan ini pengarang akan menganalisis salah satu karya Nugroho Notosusanto yang berjudul “Senyum”. Karya ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Hujan Kepagian.
Hal yang akan penulis kaji dalam makalah ini antara lain pemilihan makna atau diksi serta penggunaan majas dalam cerpen Senyum.
PEMBAHASAN
Cerpen Senyum mengangkat tema perjuangan pada masa pendudukan Jepang. Hal itu begitu kental ditemukan dalam setiap paragraf dalam cerpen tersebut. Hal itu dapat kita lihat pada kutipan berikut: “Aku lihat ledakan-ledakan granat hanya sampai ke kaki bukit Kuwuk ini. Tembakan-tembakan peluru lebih jauh, tetapi kalau sudah jauh jadi lemah.”
Namun, perjuangan itu tidak diceritakan pada saat peperangan itu terjadi, tapi beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. “… Leica yang bergantung pada leher, memukul-mukul dada. Lima tahun yang lalu yang bergantung di situ sebuah teropong infanteri, pikirku.”
Untuk menegaskan kesan peperangan Nugroho juga menggunakan beberapa kata yang sering ditemui dan digunakan dalam peperangan atau kata-kata yang umum digunakan dalam susunan ketentaraan. Antara lain; infanteri, bom-H, brigade 17, peleton KL, bren, popor, dan front.
Nugroho dalam cerpen “Senyum” memiliki gaya yang khas dalam bercerita. Pemilihan kata yang digunakan dalam bercerita cenderung memakai merek atau lambang dari hal yang ingin dideskripsikannya, yang kebanyakan merupakan bahasa asing.
Ada beberapa kata atau hal yang dideskripsikan oleh Nugroho dengan menggunakan merek dari benda itu, antara lain:
1. Nugroho menggunakan kata RAY BAN untuk mendeskripsikan kaca mata hitam.
2. kata WEMBLEY untuk mendeskripsikan rokok.
3. kata VALDA PASTILES untuk mendeskripsikan makanan sejenis permen.
4. kata LEICA yang merupakan sebuah merek dari kamera untuk mendeskripsikan kamera itu sendiri.
5. kata FEETMASTER untuk mendeskripsikan sepatu mahal yang dikenakannya.
6. kata METROPOLE untuk mendeskripsikan salah satu gedung bioskop di Jakarta.
7. kata KARTETS untuk mendeskripsikan salah satu jenis peluru dengan tipe tertentu.
8. kata PHILIPS BABY-MODEL untuk mendeskripsikan radio atau tape.
9. kata EDDYSTONE yang merupakan salah satu merek senapan amerika untuk mendeskripsikan senapan itu sendiri.
10. kata LA MARSSEILLAISE untuk menyebutkan salah satu lagu mars yang membangkitkan semangat.
11. kata WATERMANTEL untuk mendeskripsikan sejenis senapan dengan mesin besar.
12. kata LEWIS-GUN yang merupakan merek senapan untuk mendeskripsikan senapan mesin.
13. kata STILLE NACHT, HEILIGE NACHT untuk mendeskripsikan sejenis lagu rohani.
14. kata ALGEMENE-POLITIE untuk mendeskripsikan mobil sejenis jeep.
Selain itu ada juga pemilihan kata yang bukan merupakn merek dari suatu benda namun tetap merupakan kata dalam bahasa asing. Kata-kata tersebut antara lain;
1. YELLOW-FILTER dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk mennyebutkan lensa kamera yang dipakai.
2. TERUGVALBASIS dari bahasa belanda yang dimaksudkan untuk menyebutkan pangkalan unntuk mundur bagi tentara.
3. TEKIDANTO dari bahasa jepang yang dimaksudkan untuk menyebutkan orang yang melempar granat.
4. VUURSTOOT dari bahasa belanda yang dimaksudkan untuk menyebutkan rentetan tembakan yang terdengar.
5. SONG-HITS dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk menyebutkan lagu pop.
6. UNIFORM-HIJAU dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk menyebutkan tentara musuh yang memang memakai seragam berwarna hijau.
7. A’UDZU BI’LLAH dari bahasa arab yang dimaksudkan untuk menyebutkan doa yang dilantunkan oleh ibunya.
Ada juga pemilihan leksikal yang menimbulkan pencitraan lokal karena diambil dari bahasa daerah tertentu. Hal itu digunakan untuk memberikan makna yang tegas atau lebih tepat dalam cerita. Seperti kata budak yang merupakan sebutan untuk anak yang sering digunakan di daerah di sumatera. Dan dalam bahasa jawa yaitu tembakau krosok untuk menyebut tembakau yang dipakai untuk merokok, slepen untuk menyebut tempat tembakau, hengkang untuk menyebut pergi atau mundur, bencut untuk menyebut luka lecet, tekduk untuk menyebut membahana atau berbunyi keras sekali, moncrot untuk menyebut terhambur atau keluar dari susunan di tempatnya, ayu untuk menyebut cantik, aleman untuk menyebutkan pengecut atau cengeng, bedil untuk menyebut senapan, cempluk yang merupakan sebutan untuk anak perempuan, dan mas yang merupakan panggilan untuk abang laki-laki.
Nugroho dalam cerpen Senyum juga menggunakan beberapa majas. Antara lain personifikasi;
“…setiap batu besar dapat aku kenali, dan kenangan membual keluar”
“angin yang bermain pada pantat telanjangitu terasa juga.”
“sebuah granat merobek apa yang tengah aku alami.”
“tiga peluru kartets membelai telingaku,…”
“lengan kaki kanan tak berperasaan lagi”
Perumpamaan;
“nafasku seperti gulali yang menetes ke bawah, putus-bersambung lagi, putus-bersambung lagi,…”
“aku jatuh lagi ke tanah seperti bom.”
dan pengerasan makna.
“petir menggeledeg terus-menerus.”
Beberapa idiom yang digunakan Nugroho untuk menambah nilai estetik cerpen ini antara lain; makan timah untuk menyatakan dihujani peluru, hujan timah untuk menyatakan diberondong peluru, pandang tamasya untuk menyatakan memandang berkeliling, perut berbunyi untuk menyatakan lapar, diburu takut, dan dihimbau harapan.
Sedangkan pilihan kata atau diksi yang digunakan untuk menambah nilai estetik cerpen ini antara lain; alat potret untuk menyatakan kamera,
“ …pikirku sambil menyetelkan alat potret lalu menutupnya kembali.”
sigaret untuk menyatakan rokok,
“kemudian aku memandang pada makam sambil menyalakan sigaret lagi.”
mengilat untuk mengatakan terbayang lagi dalam waktu yang cepat.
“pikiranku mengilat ke rumah.”
Damba untuk menyatakan rindu,
“aku jadi damba pada segala itu.”
PENUTUP
Dari hasil analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa cerpen “Senyum” karya Nugroho Notosusanto, ehmmm.... apa ya??? mikir dlu deh....
Nugroho Notosusanto adalah seorang pengarang sekaligus pejuang pada masa pendudukan Jepang. Rangkaian tugas kerjanya berkaitan erat dengan bidang pendidikan. Partisipasinya dalam pertemuan ilmiah tingkat nasional maupun internasional juga sangat besar. Karya tulisnya berupa buku, brosur, sampai artikel ilmiah tak kurang dari 40 judul, sedangkan yang ilmiah populer sekitar 22 judul.
Dalam tulisan ini pengarang akan menganalisis salah satu karya Nugroho Notosusanto yang berjudul “Senyum”. Karya ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Hujan Kepagian.
Hal yang akan penulis kaji dalam makalah ini antara lain pemilihan makna atau diksi serta penggunaan majas dalam cerpen Senyum.
PEMBAHASAN
Cerpen Senyum mengangkat tema perjuangan pada masa pendudukan Jepang. Hal itu begitu kental ditemukan dalam setiap paragraf dalam cerpen tersebut. Hal itu dapat kita lihat pada kutipan berikut: “Aku lihat ledakan-ledakan granat hanya sampai ke kaki bukit Kuwuk ini. Tembakan-tembakan peluru lebih jauh, tetapi kalau sudah jauh jadi lemah.”
Namun, perjuangan itu tidak diceritakan pada saat peperangan itu terjadi, tapi beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. “… Leica yang bergantung pada leher, memukul-mukul dada. Lima tahun yang lalu yang bergantung di situ sebuah teropong infanteri, pikirku.”
Untuk menegaskan kesan peperangan Nugroho juga menggunakan beberapa kata yang sering ditemui dan digunakan dalam peperangan atau kata-kata yang umum digunakan dalam susunan ketentaraan. Antara lain; infanteri, bom-H, brigade 17, peleton KL, bren, popor, dan front.
Nugroho dalam cerpen “Senyum” memiliki gaya yang khas dalam bercerita. Pemilihan kata yang digunakan dalam bercerita cenderung memakai merek atau lambang dari hal yang ingin dideskripsikannya, yang kebanyakan merupakan bahasa asing.
Ada beberapa kata atau hal yang dideskripsikan oleh Nugroho dengan menggunakan merek dari benda itu, antara lain:
1. Nugroho menggunakan kata RAY BAN untuk mendeskripsikan kaca mata hitam.
2. kata WEMBLEY untuk mendeskripsikan rokok.
3. kata VALDA PASTILES untuk mendeskripsikan makanan sejenis permen.
4. kata LEICA yang merupakan sebuah merek dari kamera untuk mendeskripsikan kamera itu sendiri.
5. kata FEETMASTER untuk mendeskripsikan sepatu mahal yang dikenakannya.
6. kata METROPOLE untuk mendeskripsikan salah satu gedung bioskop di Jakarta.
7. kata KARTETS untuk mendeskripsikan salah satu jenis peluru dengan tipe tertentu.
8. kata PHILIPS BABY-MODEL untuk mendeskripsikan radio atau tape.
9. kata EDDYSTONE yang merupakan salah satu merek senapan amerika untuk mendeskripsikan senapan itu sendiri.
10. kata LA MARSSEILLAISE untuk menyebutkan salah satu lagu mars yang membangkitkan semangat.
11. kata WATERMANTEL untuk mendeskripsikan sejenis senapan dengan mesin besar.
12. kata LEWIS-GUN yang merupakan merek senapan untuk mendeskripsikan senapan mesin.
13. kata STILLE NACHT, HEILIGE NACHT untuk mendeskripsikan sejenis lagu rohani.
14. kata ALGEMENE-POLITIE untuk mendeskripsikan mobil sejenis jeep.
Selain itu ada juga pemilihan kata yang bukan merupakn merek dari suatu benda namun tetap merupakan kata dalam bahasa asing. Kata-kata tersebut antara lain;
1. YELLOW-FILTER dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk mennyebutkan lensa kamera yang dipakai.
2. TERUGVALBASIS dari bahasa belanda yang dimaksudkan untuk menyebutkan pangkalan unntuk mundur bagi tentara.
3. TEKIDANTO dari bahasa jepang yang dimaksudkan untuk menyebutkan orang yang melempar granat.
4. VUURSTOOT dari bahasa belanda yang dimaksudkan untuk menyebutkan rentetan tembakan yang terdengar.
5. SONG-HITS dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk menyebutkan lagu pop.
6. UNIFORM-HIJAU dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk menyebutkan tentara musuh yang memang memakai seragam berwarna hijau.
7. A’UDZU BI’LLAH dari bahasa arab yang dimaksudkan untuk menyebutkan doa yang dilantunkan oleh ibunya.
Ada juga pemilihan leksikal yang menimbulkan pencitraan lokal karena diambil dari bahasa daerah tertentu. Hal itu digunakan untuk memberikan makna yang tegas atau lebih tepat dalam cerita. Seperti kata budak yang merupakan sebutan untuk anak yang sering digunakan di daerah di sumatera. Dan dalam bahasa jawa yaitu tembakau krosok untuk menyebut tembakau yang dipakai untuk merokok, slepen untuk menyebut tempat tembakau, hengkang untuk menyebut pergi atau mundur, bencut untuk menyebut luka lecet, tekduk untuk menyebut membahana atau berbunyi keras sekali, moncrot untuk menyebut terhambur atau keluar dari susunan di tempatnya, ayu untuk menyebut cantik, aleman untuk menyebutkan pengecut atau cengeng, bedil untuk menyebut senapan, cempluk yang merupakan sebutan untuk anak perempuan, dan mas yang merupakan panggilan untuk abang laki-laki.
Nugroho dalam cerpen Senyum juga menggunakan beberapa majas. Antara lain personifikasi;
“…setiap batu besar dapat aku kenali, dan kenangan membual keluar”
“angin yang bermain pada pantat telanjangitu terasa juga.”
“sebuah granat merobek apa yang tengah aku alami.”
“tiga peluru kartets membelai telingaku,…”
“lengan kaki kanan tak berperasaan lagi”
Perumpamaan;
“nafasku seperti gulali yang menetes ke bawah, putus-bersambung lagi, putus-bersambung lagi,…”
“aku jatuh lagi ke tanah seperti bom.”
dan pengerasan makna.
“petir menggeledeg terus-menerus.”
Beberapa idiom yang digunakan Nugroho untuk menambah nilai estetik cerpen ini antara lain; makan timah untuk menyatakan dihujani peluru, hujan timah untuk menyatakan diberondong peluru, pandang tamasya untuk menyatakan memandang berkeliling, perut berbunyi untuk menyatakan lapar, diburu takut, dan dihimbau harapan.
Sedangkan pilihan kata atau diksi yang digunakan untuk menambah nilai estetik cerpen ini antara lain; alat potret untuk menyatakan kamera,
“ …pikirku sambil menyetelkan alat potret lalu menutupnya kembali.”
sigaret untuk menyatakan rokok,
“kemudian aku memandang pada makam sambil menyalakan sigaret lagi.”
mengilat untuk mengatakan terbayang lagi dalam waktu yang cepat.
“pikiranku mengilat ke rumah.”
Damba untuk menyatakan rindu,
“aku jadi damba pada segala itu.”
PENUTUP
Dari hasil analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa cerpen “Senyum” karya Nugroho Notosusanto, ehmmm.... apa ya??? mikir dlu deh....
Langganan:
Postingan (Atom)