Entri Populer

Kamis, 03 Maret 2011

KAJIAN UNSUR LEKSIKAL CERPEN "SENYUM" KARYA NUGROHO NOTOSUSANTO

PENDAHULUAN

Nugroho Notosusanto adalah seorang pengarang sekaligus pejuang pada masa pendudukan Jepang. Rangkaian tugas kerjanya berkaitan erat dengan bidang pendidikan. Partisipasinya dalam pertemuan ilmiah tingkat nasional maupun internasional juga sangat besar. Karya tulisnya berupa buku, brosur, sampai artikel ilmiah tak kurang dari 40 judul, sedangkan yang ilmiah populer sekitar 22 judul.
Dalam tulisan ini pengarang akan menganalisis salah satu karya Nugroho Notosusanto yang berjudul “Senyum”. Karya ini dimuat dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul Hujan Kepagian.
Hal yang akan penulis kaji dalam makalah ini antara lain pemilihan makna atau diksi serta penggunaan majas dalam cerpen Senyum.


PEMBAHASAN

Cerpen Senyum mengangkat tema perjuangan pada masa pendudukan Jepang. Hal itu begitu kental ditemukan dalam setiap paragraf dalam cerpen tersebut. Hal itu dapat kita lihat pada kutipan berikut: “Aku lihat ledakan-ledakan granat hanya sampai ke kaki bukit Kuwuk ini. Tembakan-tembakan peluru lebih jauh, tetapi kalau sudah jauh jadi lemah.”
Namun, perjuangan itu tidak diceritakan pada saat peperangan itu terjadi, tapi beberapa tahun setelah Indonesia merdeka. “… Leica yang bergantung pada leher, memukul-mukul dada. Lima tahun yang lalu yang bergantung di situ sebuah teropong infanteri, pikirku.”
Untuk menegaskan kesan peperangan Nugroho juga menggunakan beberapa kata yang sering ditemui dan digunakan dalam peperangan atau kata-kata yang umum digunakan dalam susunan ketentaraan. Antara lain; infanteri, bom-H, brigade 17, peleton KL, bren, popor, dan front.
Nugroho dalam cerpen “Senyum” memiliki gaya yang khas dalam bercerita. Pemilihan kata yang digunakan dalam bercerita cenderung memakai merek atau lambang dari hal yang ingin dideskripsikannya, yang kebanyakan merupakan bahasa asing.
Ada beberapa kata atau hal yang dideskripsikan oleh Nugroho dengan menggunakan merek dari benda itu, antara lain:
1. Nugroho menggunakan kata RAY BAN untuk mendeskripsikan kaca mata hitam.
2. kata WEMBLEY untuk mendeskripsikan rokok.
3. kata VALDA PASTILES untuk mendeskripsikan makanan sejenis permen.
4. kata LEICA yang merupakan sebuah merek dari kamera untuk mendeskripsikan kamera itu sendiri.
5. kata FEETMASTER untuk mendeskripsikan sepatu mahal yang dikenakannya.
6. kata METROPOLE untuk mendeskripsikan salah satu gedung bioskop di Jakarta.
7. kata KARTETS untuk mendeskripsikan salah satu jenis peluru dengan tipe tertentu.
8. kata PHILIPS BABY-MODEL untuk mendeskripsikan radio atau tape.
9. kata EDDYSTONE yang merupakan salah satu merek senapan amerika untuk mendeskripsikan senapan itu sendiri.
10. kata LA MARSSEILLAISE untuk menyebutkan salah satu lagu mars yang membangkitkan semangat.
11. kata WATERMANTEL untuk mendeskripsikan sejenis senapan dengan mesin besar.
12. kata LEWIS-GUN yang merupakan merek senapan untuk mendeskripsikan senapan mesin.
13. kata STILLE NACHT, HEILIGE NACHT untuk mendeskripsikan sejenis lagu rohani.
14. kata ALGEMENE-POLITIE untuk mendeskripsikan mobil sejenis jeep.

Selain itu ada juga pemilihan kata yang bukan merupakn merek dari suatu benda namun tetap merupakan kata dalam bahasa asing. Kata-kata tersebut antara lain;
1. YELLOW-FILTER dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk mennyebutkan lensa kamera yang dipakai.
2. TERUGVALBASIS dari bahasa belanda yang dimaksudkan untuk menyebutkan pangkalan unntuk mundur bagi tentara.
3. TEKIDANTO dari bahasa jepang yang dimaksudkan untuk menyebutkan orang yang melempar granat.
4. VUURSTOOT dari bahasa belanda yang dimaksudkan untuk menyebutkan rentetan tembakan yang terdengar.
5. SONG-HITS dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk menyebutkan lagu pop.
6. UNIFORM-HIJAU dari bahasa inggris yang dimaksudkan untuk menyebutkan tentara musuh yang memang memakai seragam berwarna hijau.
7. A’UDZU BI’LLAH dari bahasa arab yang dimaksudkan untuk menyebutkan doa yang dilantunkan oleh ibunya.

Ada juga pemilihan leksikal yang menimbulkan pencitraan lokal karena diambil dari bahasa daerah tertentu. Hal itu digunakan untuk memberikan makna yang tegas atau lebih tepat dalam cerita. Seperti kata budak yang merupakan sebutan untuk anak yang sering digunakan di daerah di sumatera. Dan dalam bahasa jawa yaitu tembakau krosok untuk menyebut tembakau yang dipakai untuk merokok, slepen untuk menyebut tempat tembakau, hengkang untuk menyebut pergi atau mundur, bencut untuk menyebut luka lecet, tekduk untuk menyebut membahana atau berbunyi keras sekali, moncrot untuk menyebut terhambur atau keluar dari susunan di tempatnya, ayu untuk menyebut cantik, aleman untuk menyebutkan pengecut atau cengeng, bedil untuk menyebut senapan, cempluk yang merupakan sebutan untuk anak perempuan, dan mas yang merupakan panggilan untuk abang laki-laki.
Nugroho dalam cerpen Senyum juga menggunakan beberapa majas. Antara lain personifikasi;
“…setiap batu besar dapat aku kenali, dan kenangan membual keluar”
“angin yang bermain pada pantat telanjangitu terasa juga.”
“sebuah granat merobek apa yang tengah aku alami.”
“tiga peluru kartets membelai telingaku,…”
“lengan kaki kanan tak berperasaan lagi”
Perumpamaan;
“nafasku seperti gulali yang menetes ke bawah, putus-bersambung lagi, putus-bersambung lagi,…”
“aku jatuh lagi ke tanah seperti bom.”
dan pengerasan makna.
“petir menggeledeg terus-menerus.”
Beberapa idiom yang digunakan Nugroho untuk menambah nilai estetik cerpen ini antara lain; makan timah untuk menyatakan dihujani peluru, hujan timah untuk menyatakan diberondong peluru, pandang tamasya untuk menyatakan memandang berkeliling, perut berbunyi untuk menyatakan lapar, diburu takut, dan dihimbau harapan.


Sedangkan pilihan kata atau diksi yang digunakan untuk menambah nilai estetik cerpen ini antara lain; alat potret untuk menyatakan kamera,
“ …pikirku sambil menyetelkan alat potret lalu menutupnya kembali.”
sigaret untuk menyatakan rokok,
“kemudian aku memandang pada makam sambil menyalakan sigaret lagi.”
mengilat untuk mengatakan terbayang lagi dalam waktu yang cepat.
“pikiranku mengilat ke rumah.”
Damba untuk menyatakan rindu,
“aku jadi damba pada segala itu.”

PENUTUP

Dari hasil analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa cerpen “Senyum” karya Nugroho Notosusanto, ehmmm.... apa ya??? mikir dlu deh....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar sangat diterima...
gak dikomentari juga gapapa,..